Senin, 07 November 2011

Nih, Proses Pembuatan Cast Piston dan Forging Piston!


Beberapa waktu yang lalu sudah dijelaskan bedanya piston biasa (cast piston) dan piston yang dibuat dengan proses tempa (forging piston). Sekarang Kita cermati cara membuatnya. Mulai dari Cast piston dulu ya!

Cast Piston

Bahan baku dari lempengan aluminium. Kalau di PT Federal Izumi Manufaturing diambil langsung dari Jepang. Makanya meski dibuat menggunakan proses casting tapi didukung bahan berkualitas. Agar hasilnya lebih kuat sesuai pesanan pabrikan motor. Bahan lempengan aluminium dipanaskan sampai mencair. Titik didihnya lumayan tinggi.

Aluminium cair kemudian dimasukkan ke dalam cetakan menggunakan cawan. Kalau di PT FIM proses cetak tidak hanya mengandalkan gravity, tapi juga dibarengi dengan tekanan. Supaya hasilnya kuat.

Hasil dari proses pencetakan bentuknya masih seperti kue apem yang perlu diproses machining dengan mesin bubut CNC. Proses pembentukan piston menggunakan mesin CNC sehingga sampai sempurna. Ukurannya sampai benar-benar presisi dari mulai lubang pen, lubang oli dan alur ring piston.


Hasil dari proses finishing cast piston. Badan piston masih lebar kuat namun jadi banyak bidang geseknya dengan dinding liner.  Bentuknya masih tebal sehingga berat. Putaran mesin jadi terbebani.

Forging Piston

Bahan baku dari pipa padat alias dalamnya tidak bolong. Pipa-pipa ini kemudian dipotong-potong. Ukuran mendekati piston yang sudah jadi. Supaya tidak banyak membuang bahan baku. Hasil potongan pipa dipanaskan sampai benar-benar membara. Tapi tidak sampai mencair

Bahan piston membara didinginkan sebentar. Lalu dimasukkan ke cetakan dan dipukul agar bentuknya sebesar lubang cetakan. Pemukul juga dibentuk seperti pantat piston.Bentuk piston sehabis dipukul baru pantatnya saja yang terbentuk. Namun sudah kelihatan bagian lumayan tipis. Meski tipis tapi bisa kuat karena dipukul.
Tetap harus dilakukan proses finishing. Supaya bentuk dan ukurannya presisi. Proses finshing menggunakan alat permesinan macam mesin bubut CNC. Dibentuk juga lubang pen, ring piston dan lubang oli sepresisi mungkin.

Hasil dari proses pembuatan. Bentuk piston forging serba tipis-tipis namun bisa kuat. Karena prosesnya aluminium padat yang dipukul atau tempa seperti bikin pedang. Bidang kontak dengan liner sedikit. Gesekannya ringan. Juga lebih enteng, sehingga putaran mesin lebih enteng.


Salam OneHeart... 

Minggu, 06 November 2011

Kenapa Bobot Ban Tubeless Lebih Berat?



Timbang kembang dan ukuran yang sama
Banyak
yang penasaran, kenapa rasanya ban tubeless itu lebih berat dibandingkan ban tubetipe. Padahal ban tubetipe sudah dilengkapi ban dalam tapi tetap saja lebih enteng.

Untuk menjawab rasa penasaran banyak rakyat biker, sekarang coba kita timbang. Sengaja memilih ban dengan ukuran sama dan kembangan yang sama juga. Pilihannya adalah ban IRC SS 530.

"Ban dengan kode ini tersedia untuk skubek atau ring 14 inci. Ada versi tubetipe dan ada juga versi tubeless yang tergolong racing," kata Dodiyanto dari Marketing New Product Development PT Gajah Tunggal Tbk selaku produsen IRC.

Kami menimbang masing-masing satu set ban dari kedua tipe ini. Untuk ukuran depannya 80/90-14 sedangkan belakang 90/90-14. Untuk tubetipe, ban dalamnya juga kami timbang.

Terbukti untuk ukuran 80/90-14, ban jenis tubetipe beratnya 2 kg. Ditambah ban dalam yang punya bobot 0,4 kg maka jadi 2,4 kg. Sedangkan ban tubeless memiliki bobot yang mencapai 2,8 kg. Artinya ada selisih hingga 0,4 kg.

Sedangkan untuk ban belakang yang berukuran 90/90-14, tipe tubeless beratnya mencapai 3,4 kg. Sementara ban biasa hanya 3 kg sudah dengan ban dalam. Artinya juga, ada selisih 0,4 kg.

"Memang dari segi konstruksi ban tubeless itu pasti akan lebih berat dibandingkan ban biasa," lanjut Dodi. Hal itu dikarenakan ada tambahan yang namanya inner liner.

"Inner liner itu semacam tambahan pada bagian dalam sehingga ban lebih kuat meskipun tanpa adanya ban dalam," terang warga Ciledug, Tangerang ini.

 Inner Liner. Bikin tebal dan keras
Jika dibelah, inner liner tadi akan jelas terlihat. Penambahan ini membuat 'daging' ban jadi lebih tebal dan keras, tapi hanya di bagian dalam saja. Pemberian lapisan tambahan ini tidak akan membuat permukaan telapak ban tubeless lebih keras dibandingkan tubetipe. Malah biasanya tubeless lebih empuk karena compound soft yang digunakan.  

Dengan adanya perbedaan berat itu, apakah punya pengaruh dengan pengendara dan motornya? Bagi yang bisa menggunakan ban tubetipe kemudian berganti tubeless akan ada sedikit perbedaan saat riding yang dirasakan.

Selain itu karena bobot motor otomatis bertambah jika mengganti dari ban biasa ke tubeless atau sebaliknya jika dari tubeless ke tubetipe maka juga akan mempengaruhi konsumsi bensin.

Pantas banderol ban tubeles lebih mahal. Bisa jadi karena ada tambahan berat dari inner liner itu.


Salam OneHeart...

Jumat, 04 November 2011

Mengenal ban Tubeless



Butuh pentil khusus buat tubeless
Ban tipe tubeless alias ban yang tak lagi aplikasi ban dalam atawa tube, punya kelebihan. Salah satunya, lebih tahan terhadap benda tajam. Misalnya, dari paku yang jadi musuh pengendara di jalan. Setidaknya, ban udara di dalam ban tidak cepat keluar.

“Ban tubeless memiliki tambahan innerlinner di bagian dalamnya. Lapisan ini yang menjaga agar angin tidak cepat keluar saat kena paku,” ungkap Riza, Marketing Division PT Suryaraya Rubberindo Industries (SRI), produsen ban FDR.

Pori-pori kecil yang tercipta akibat tusukan paku, akan sedikit ditutup sekelilingnya oleh lapisan tambahan. Maka itu, jangan heran jika ban tipe tubeless dijual lebih mahal. Kan butuh proses dan bahan tambahan dalam pengerjaannya.

Ada tambahan innerlinner yang tak dimiliki tipe ban tube
Oh ya! Jangan lupa ganti pentil tipe tubless ya. Harganya sekitar Rp 10–15 ribuan. Pentil ini, dipasang di pelek. Jadi, tak ikut meski ban dilepas. Pabrikan motor pun sudah ada yang aplikasi tipe ban tubeless buat pacuannya.



Salam OneHeart...

Rabu, 02 November 2011

First Ride Kawasaki ER-6N dan Ninja 650R, Ini Dia Moge Jepang Murah!

Kawasaki ER-6N, cocok buat daily riding
PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) ingin terus membidik pasar berbeda dibanding pabrikan motor Jepang lainnya di Tanah Air. Sebab hari ini (25/11), KMI bakal kembali meluncurkan dua varian moge terbarunya. Yaitu, Kawasaki ER-6N dan Ninja 650R.

Makin menarik, harga yang akan ditawarkan ke pasaran! Buat ER-6N, cuma dilepas Rp 99 juta (On The Road, Jakarta). Sedang bagi Ninja 650R, sedikit lebih mahal. Tapi, masih di angka Rp 100 jutaan. Tepatnya, Rp 105 juta!

Harga yang ditawarkan, tergolong menarik. Setidaknya sobat yang kepincut ingin punya moge 600cc, keduanya memang bisa jadi pilihan menarik. Apalagi, sodoran harga itu tidak terlalu tinggi jika dibanding moge Jepang 600cc lain. Ya, yang datang lewat Importir Umum (IU).

Sebelum launching, MOTOR Plus diberi kesempatan KMI buat menjajal langsung varian terbaru ini. Sebenarnya, secara spesifikasi keduanya tidak jauh beda. Artinya, antara ER-6N dan Ninja 650R punya basis mesin sama. Termasuk wheelbase dan sasis. Cuma beda nama karena Ninja 650R aplikasi fairing. Pacuan sport berfairing diharuskan mengadopsi nama Ninja oleh Kawasaki di Jepang sono.

Engine 4-tak dua silinder segaris yang diaplikasi ER-6N dan Ninja 650R menyimpan kapasitas silinder murni 649cc. Seiap silinder, dijejali piston 83mm dengan stroke 60mm.

Jadi Ninja 650R karena pakai fairing
Meski dua silinder, karakter engine yang ditawarkan lebih kepada torsi. Torsi maksimum 64 Nm bakal keluar ketika sentuh 7.000 rpm. Tentu berbeda dengan karakter supersports yang cenderung bermain di atas 10.000 rpm. Jadi, buat daily riding atau beraktivitas di perkotaan pun tidak masalah.

Lewat postur tubuh yang 178 cm/64 kg, berkendara ER-6N yang tampil naked, rasanya tidak ada kendala. Begitu juga dengan Ninja 650R. Selain didukung position riding bergaya sport turing, kedua kaki juga bisa menjejak sempurna. Karena tinggi jok ke tanah hanya 805mm.

Apalagi, bobot masih tergolong ringan jika dibandingkan moge supersports. Toh, meski Ninja 650 mengaplikasi fairing pun, perbedaan bobot keduanya tidak jauh berbeda. So, lagi-lagi, kehadiran moge berbanderol Rp 100 jutaan dari Kawasaki ini bisa saja menjawab impian sobat yang rindu akan moge.



Salam OneHeart...

Jumat, 14 Oktober 2011

Komparasi Honda CBR 250R non ABS vs 150R, Beda Karakter!



Honda CBR 250R non Antilock Brake System (ABS) dan CBR 150R cuma terpaut tipis masalah harga. CBR 250R non ABS dilepas Rp 39,9 juta, sedang CB 150R dijual Rp 33 juta. Cuma terpaut Rp 6,9 juta saja.

Jadinya pilih yang mana? Tentunya sesuaikan dengan kebutuhan. Jangan sampai salah pilih lalu menyesal di kemudian hari. Yuk simak ulasannya!

Antara Sporty dan Elegan

Secara bentuk memang bagai pinang di belah dua. Tapi membelah pinangnya besar sebelah ya! Meski mirip, CBR 250R punya dimensi lebih gambot. Ulasan komparasi desain kedua motor ini sudah pernah dikupas pada tulisan sebelumnya.

Perbedaan fitur misalnya aplikasi lampu depan tanpa saklar di CBR 150R, sedang CBR 250R masih pakai saklar. Lalu kunci kontak dan setang dengan pelindung magnet ada pada CBR 150R, di CBR 250R fitur ini nihil.

Pilihan warnanya juga beda. CBR 250R tampil lebih elegan dengan pilihan warna merah, silver dan hitam. Kesemuanya bernuansa metalik dengan paduan warna silver. Sedang CBR 150R punya pilihan warna sporty; merah, hitam dan kombinasi merah-biru-putih.

Handling

Duduk diatas jok kedua motor ini, pasti Honda CBR 150R lebih bersahabat untuk pengendara bertubuh tak terlalu besar. Tinggi joknya hampir sama tapi CBR 250R lebih lebar sehingga kaki harus sedikit lebih dibuka, jadinya kaki harus sedikit menjinjit untuk tinggi pengendara tak lebih dari 165cm.

Handlingnya, CBR 150R dipastikan lebih lincah. Bobotnya lebih ringan, hanya 138 kg, sedang CBR 250R mencapai 161 kg. Belum lagi sumbu roda yang lebih pendek. CBR 250R punya jarak 1.370 mm, CBR 150R hanya 1.310 mm. Meliuk di kemacetan lebih santai, tak perlu tenaga ekstra.

Melibas tikungan CBR 250R lebih mantab. Yang membedakan, suspensi belakang CBR 150R lebih lembut ketimbang CBR 250R. Pantat motor mudah mengayun ketika melibas tikungan dan ada jalanan tak rata.

Akselerasi CBR 250R Lebih Galak

Bicara performa, beda juga karakternya. Kalau yang suka akselerasi dan stop an go pasti bakal lebih kerasan dengan performa mesin 250 cc satu silinder pada CBR 250R. Putaran bawah CBR 250R lebih galak.

Sedang CBR 150R lebih enak di putaran atas. Torsi maksimum 12,66 Nm-nya ada di 8.500 rpm makanya baru enak di 6.000 sampai 7.000 rpm ke atas. Jadi sang pengendara harus pandai-pandai menempatkan gigi sesuai dengan kecepatan dan putaran mesin untuk mendapatkan performa yang mengigit.

Untuk membuktikan tarikan bawah CBR 250R lebih yahud, dilakukan pengetesan dengan menggunakan alat ukur Vericom VC-3000. Untuk mencapai kecepatan dari 0 – 60 km/jam, CBR 150R butuh waktu 4,4 detik. Sedang CBR 250R yang isi silinder lebih besar 100 cc, hanya 3,3 detik.

Satu lagi yang menjadi catatan dalam komparasi ini adalah suhu mesin kedua motor ini selalu stabil. Suhunya tidak pernah lebih dari tiga bar dari total 6 bar pada indikator suhu mesin. Rasanya kipas electric di radiator cukup membantu mendinginkan mesin.

CBR 150R Unggul Konsumsi BBM

Sebelumnya pernah melakukan pengetesan konsumsi BBM sendiri-sendiri, kali ini dibuat bersamaan. Jangan heran kalau hasilnya sedikit berbeda. Menempuh rute yang bervariasi, melalui jalur padat kemacetan dan ketika ketemu jalan lurus yang sepi, motor dipacu maksimal.

Hasilnya, meski sama-sama mengusung sistem injeksi PGM-Fi, CBR 150R lebih unggul dengan 1 liter Pertamax untuk 35 km. Sedang CBR 250R, sedikit lebih haus. Karena 1 liter Pertamax akan habis usai berlari 32 km.


Salam OneHeart...